Kabur Dari Isis, Perempuan Ini Sebut Tak Sedikit Pun Anutan Islam Di Sana - Salallah

Media Inspiration

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Thursday, January 3, 2019

Kabur Dari Isis, Perempuan Ini Sebut Tak Sedikit Pun Anutan Islam Di Sana



Seorang perempuan yang berhasil melepaskan diri dari cengkeraman kelompok Islamic State atau ISIS bercerita pengalaman buruknya selama tinggal di wilayah yang selama ini dikenal sebagai “kekhalifahan” ISIS. Dia melarikan diri sehabis kecewa sebab ISIS tak sesuai dengan pedoman Islam.

Wanita ini memperkenalkan diri dengan nama pendek Khadijah. Dia dari Kota Tunis, Tunisia, ke Suriah.

Khadijah yang sudah tiga tahun tinggal di Raqqa—yang diklaim ISIS sebagai ibu kotanya—mengatakan kepada Russia Today bahwa beliau melihat banyak kekejaman dan ketidakadilan. Menurutnya, tidak ada upaya konkret di kelompok ISIS untuk menjalankan aturan Syariah Islam.

”Suami aku dan aku menciptakan kesalahan besar dengan tiba ke sana. Dan aku menyarankan supaya Anda tidak mempercayai orang-orang yang menyampaikan bahwa ISIS yakni negara Islam, yang mengajarkan Islam dan Syariah serta hidup sesuai dengan pedoman Nabi Muhammad dan Alquran,” kata Khadijah.

Selama tinggal di Raqqa, beliau mencatat bahwa para militan ISIS tidak mentolerir perbedaan pendapat dan kontradiksi dengan pemerintahan mereka.

”Semua orang yang menentang mereka, dipenggal kepalanya. Dan orang-orang tidak tahu kapan ini akan terjadi,” ujarnya.

”Mereka tidak berada di jalan yang benar. Inilah keadaan tirani dan setan. Suami aku meninggalkan mereka (ISIS), dan menyuruh aku untuk melaksanakan hal yang sama,” lanjut Khadijah. Dia dan suaminya melarikan diri dari Raqqa berjalan ke arah selatan ke Kota al-Mayadeen dan lalu ke Turki.

Tapi, sebelum beliau berhasil melarikan diri, perempuan muda ini telah menyaksikan sisi tergelap ISIS, di mana kehidupan orang-orang di kelompok itu, khususnya perempuan dan bawah umur sangat rentan.

”Ada banyak kejahatan di kawasan tinggal perempuan. Anak-anak menderita kudis, kutu. Saat anak sakit, mereka tidak menerima perawatan di rumah sakit,” kata Khadijah.

Jika perempuan ditemukan melanggar kode etik yang ketat, yang dipaksakan oleh ISIS, mereka dikurung di penjara menyerupai kemudahan penahanan oleh pengawas wanita, yang bertanggung jawab atas ”asrama wanita”.

”Sangat memuakkan untuk berada di sana,” ucap Khadijah yang menceritakan kisah-kisah perempuan dalam persalinan yang mencari kontribusi tapi tidak ada yang peduli. Wanita di sana dipaksa melahirkan bayi di tempat.

Bahkan, kata Khadijah, ada seorang perempuan yang berdarah hingga meninggal ketika persalinan sehabis superintendent (pengawas) menolak untuk membantunya.

”Wanita malang itu pergi ke kebun, sambil mengalami pendarahan hebat, tinggal di sana hingga pagi dalam cuaca hujan dan dingin. Tidak ada yang memperhatikannya. Dan pada pagi hari suaminya datang, melihat tubuhnya terbaring di kebun dan lewat, tanpa memperhatikan, sebab tidak ada yang terjadi, seakan-akan (korban) yakni seekor anjing,” tutur Khadijah.

Dalam kasus lain, ada seorang perempuan yang menjadi lumpuh sehabis permohonannya untuk dikirim ke rumah sakit ditolak meski beliau menyampaikan bahwa kakinya membusuk.

Khadijah juga membenarkan ulah para militan ISIS yang menyebabkan perempuan yang bukan istrinya sebagai budak seks. Menurutnya, perempuan yang bukan budak seks tidak mengalami apa yang disebut sebagai ”jihad seks”.

”Anda pergi ke balai kota dan menikah. Jika Anda sudah menikah dan suami terbunuh, Anda akan  menikah dengan laki-laki lain,” katanya. Cerita yang sama sekali berbeda adalah, bagaimanapun, ketika seorang perempuan yang ditangkap atau tawanan dan menjelma budak seks.

Sebagai budak seks, seorang perempuan dianggap sebagai milik pemiliknya, untuk melaksanakan apa yang beliau suka, seperti, dijual atau diberikan sebagai hadiah.

”Istri dan perempuan lainnya tinggal terpisah. Dia (militan ISIS) tinggal bersama mereka secara bergiliran, suatu hari dengan satu wanita, dan beberapa hari dengan yang lain,” ujar Khadijah, yang mencatat bahwa meskipun istri mereka terhormat, tapi terkadang iri pada perempuan budak Yazidi.

”Banyak laki-laki menyayangi gadis Yazidi lebih dari istri mereka,” katanya.

Nur Al-Khouda, 20, perempuan yang berasal dari Tripoli, Libanon, menyampaikan bahwa suaminya pertama kali bergabung dengan kelompok Salafi dimana beliau diindoktrinasi dengan ideologi ISIS dan berangkat ke Suriah.

”Dia meyakinkan aku bahwa tidak ada yang jelek di sana dan aku mempercayainya sebagai istri, jadi aku mengatur semua dokumen dan aku bergabung dengannya di Suriah,” kata perempuan muda ini kepada Russia Today, yang dilansir Sabtu (15/7/2017) malam.

Perdagangan budak, kata dia, yakni pasar yang sedang booming di ISIS.

”Mereka menaruh banyak perhatian pada penampilan wanita. Mereka membeli make up untuk menjualnya seharga USD15.000, perawan diberi harga USD30.000,” ujar Al-Khouda.

Sumber https://www.asiasatu.online

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages