Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad mengecam langkah Australia untuk mengakui Yerusalem Barat sebagai Ibu Kota Israel. Dia mengatakan, tidak ada negara yang mempunyai hak untuk melakukannya.
Langkah Australia itu mengikuti keputusan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump untuk memindahkan kedutaan AS ke Yerusalem dari Tel Aviv, yang menciptakan murka orang-orang Palestina dan dunia Islam dan menciptakan murka sekutu Barat.
"Yerusalem harus tetap menyerupai kini dan bukan Ibu Kota Israel," kata Mahathir dalam sebuah pernyataan, menyerupai dilansir Reuters pada Minggu (16/12).
"Yerusalem selalu di bawah Palestina, jadi mengapa mereka mengambil inisiatif untuk membagi Yerusalem bukan milik mereka, tetapi untuk membagi orang Arab dan Yahudi? Mereka tidak mempunyai hak," sambungnya.
Status Yerusalem, rumah bagi situs-situs suci bagi agama Muslim, Yahudi dan Kristen, ialah salah satu kendala terbesar bagi perjanjian tenang antara Israel dan Palestina yang ingin Yerusalem Timur diakui sebagai Ibu Kota negara Palestina.
Israel menganggap seluruh Yerusalem sebagai ibukotanya, termasuk sektor timur yang dianeksasi dalam sebuah langkah yang tidak diakui secara internasional, sehabis perang Timur Tengah pada 1967.
(esn)

No comments:
Post a Comment