Mahathir : Dulu Aku Dan Pak Harto Dapat Lawan China, Jikalau Sekarang... - Salallah

Media Inspiration

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Thursday, March 15, 2018

Mahathir : Dulu Aku Dan Pak Harto Dapat Lawan China, Jikalau Sekarang...


Sebagai negara besar, China terus menancapkan pengaruhnya ke aneka macam negara. Tak kecuali di Malaysia. Namun naiknya Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri, sejumlah kebijakan terkait dengan China dibatalkan.

Banyak alasan mengapa Mahathir berani mengambil keputusan tersebut. Hal ini terungkap dikala Mahathir bertemu dengan sejumlah pimpinan media di Indonesia di Kantor PM Kompleks Pemerintahan Putrajaya, Malaysia Selasa 19 Februari 2019.

Saat ini para pendiri ASEAN sebagian besar sudah tidak ada. Dengan terpilih kembali sebagai perdana menteri, apa gagasan untuk konsolidasi ASEAN, termasuk terkait hegemoni AS-China?

ASEAN dulu dibangun oleh generasi yang usang ibarat Pak Harto (Presiden Soeharto), dan Lee Kuan Yeuw (pemimpin Singapura). Sekarang ini, alasannya yakni proses demokrasi, para pemimpin sudah berganti. Semuanya baru. Kaprikornus korelasi tidak lagi ibarat dulu.

Dulu, saya dengan Pak Harto selalu berkomunikasi secara intensif. Kalau sekarang, dapat saja gres bertemu, kemudian tidak usang setelahnya kepemimpinannya berganti. Kalau dulu kita terus berkomunikasi dalam waktu yang panjang. Dengan demikian, ASEAN kini menjadi tidak bertambah kuat.

Saya yakin jikalau interaksi dapat dibangun dengan pemimpin yang sama dan agak usang sedikit, situasiya akan berubah. Banyak hal yang dapat kita lakukan bersama-sama.

Masih adakah masa depan untuk negara-negara ASEAN?

Ke depan, persatuan negara-negara ASEAN harus lebih kuat. Penduduk ASEAN itu 600 juta. Satu pasar yang sangat besar. Masing-masing negara memang punya rencana. Tapi ASEAN harus punya proyek yang diyakini bersama. Misalnya proyek pengembangan mobil, masing-masing negara dapat berkerja sama secara bertahap.

Di masa revolusi keempat di dunia industri, Malaysia juga ingin bergerak maju. Kalau dulu, kita banyak mengandalkan industri padat karya, kini kita dorong biar warga Malaysia lebih cerdas dan menyebarkan industri berteknologi tinggi dengan basis data yag kuat. Dengan demikian, penghasilan masyarakat Malaysia akan dapat bertambah terus.

Dari sebelumnya Malaysia menyebarkan mobil, kini kita melangkah ke industri penerbangan dan antariksa. Saat ini banyak sparepart Boeing dan Airbus dibentuk di Malaysia. Tapi saya belum puas. Saya ingin Malaysia dapat buat pesawat terbang ibarat di Indonesia. Tapi persaingan di industri pesawat terbang ini susah. Kaprikornus kita buat komponennya dulu. Kaprikornus bertahap kita melangkah.

Malaysia sudah membatalkan beberapa proyek besar denga China. Ada kaitannya dengan soal kepentingan ASEAN?

Dulu China miskin. Kekuatannya lebih banyak kita. Sekarang lihat saja. Mereka kaya. Mereka banyak sekali menggelar proyek bangunan, jalan dan sebagainya dimana-mana. Mereka biasaya memperlihatkan sumbangan kepada sebuah negara, kemudian negara itu akan menjadi ‘lebih rapat’ dengan China. Malaysia ini penduduknya sedikit, dan banyak di antaranya warga China. Tapi mereka berbeda dengan warga China di kawasan lain.

Kita khawatir dengan dasar-dasar negara China. Mereka banyak menciptakan tuntutan tanpa dasar. Mereka banyak menciptakan klaim di Laut China Selatan, misalnya. Padahal tidak ada dalam sejarah bahwa nama itu memperlihatkan kepemilikan. Seperti Samudera Hindia misalnya, itu bukan milik India.

Untuk itu kita tidak mau pengaruhnya terlalu besar. Kita tidak memakai cara keras untuk pribadi mengelak. Kita cari cara yang memang boleh untuk kita lakukan. Kita tetap ingin punya korelasi yang baik. China ini pasar yang besar. Sekarang ini perdagangan Malaysia paling besar yakni dengan China. Kita menghargai ini.

Tapi jikalau mereka berbuat sesuatu yang tidak menguntungkan, kita juga menolak. Misalnya di pemerintahan sebelum ini, pinjam uang terlalu banyak ke China yang mustahil kita bayar. Kaprikornus untuk mengatasinya, kita hentikan proyek-proyek dengan China. Tapi ternyata untuk menghentikan proyek juga ada biayanya. Kita harus bayar ganti rugi dan sebagainya.

Kita berunding untuk menurunkan ganti rugi ini. Kita ingin sekali menuntaskan utang ini, biar kita dapat lebih bebas. Dalam sejarah memang negeri-negeri di semenanjung melayu ini kecil-kecil, tapi kita perlu survive di antara negara-negara tetangga yang besar.
(poe)


Sumber https://www.asiasatu.online

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages