Menteri Pertahanan Israel, Avigdor Lieberman, mengancam Israel tidak punya pilihan selain melepaskan agresi militer terhadap militan Hamas. Ucapan permusuhan itu muncul di tengah laporan IDF, pasukan pertahanan Israel, tengah mengumpulkan tank di sepanjang perbatasan Gaza.
"Perang hanya dilakukan dikala tidak ada pilihan, dan kini tidak ada pilihan," kata Lieberman kepada dewan legislatif ibarat dikutip dari Russia Today, Rabu (24/10/2018).
Tampaknya apa pun yang kurang dari jawaban terberat untuk Hamas tidak dianggap sebagai Tel Aviv telah kehabisan pilihan lain.
Spekulasi ihwal serangan potensial di Gaza telah muncul selama beberapa hari, sebab IDF menempatkan sekitar 60 tank dan pengangkut personel lapis baja di akrab perbatasan Palestina dalam apa yang mungkin merupakan penempatan militer terbesar semenjak Operation Protective Edge 2014.
Itu sehabis terjadi baku tembak pekan lalu, di mana sebuah roket dari Gaza menghantam kota Beersheba di Israel selatan, merusak sebuah rumah, sementara yang lain jatuh ke maritim akrab Tel Aviv.
Angkatan Udara Israel membalas, menewaskan satu orang Palestina dan melukai beberapa lainnya.
Lieberman menyalahkan Hamas, faksi militan yang memerintah Gaza, atas eskalasi yang terjadi. Ia mengklaim tidak ada pemberontakan terkenal di Gaza dan warga Palestina yang ambil pecahan dalam agresi protes besar-besaran ialah tentara bayaran Hamas.
Namun Palestina menyampaikan mereka melaksanakan agresi sebagai bentuk impian untuk merdeka, melawan penindasan Israel.
Lebih dari 200 warga Palestina telah tewas, termasuk petugas medis dan wartawan, dan lebih dari 22.000 orang terluka semenjak protes perbatasan - The Great March Return - dimulai pada bulan Maret.
Israel juga telah mengintensifkan pembongkaran desa-desa Palestina di Tepi Barat untuk membuka jalan bagi ekspansi permukiman ilegal Yahudi.
(ian)

No comments:
Post a Comment