Aksi super tenang di Indonesia 2 Desember kemarin dan dilanjutkan dengan agresi 8 Desember di Malaysia ternyata menerima perhatian dari Presiden Turki, Erdogan. Dibeberapa kesempatan Erdogan menyampaikan bahwa dua agresi dengan massa besar tersebut sudah mencerminkan Islam yang damai. Tidak menyerupai agresi di Prancis.
"Dengan jumlah akseptor yang sangat banyak, namun agresi berjalan sangat damai. Indonesia dan Malaysia mengambarkan Islam yang damai," ujar Erdogan di depan rakyat Turki.
"Kekuatan persaudaraan tersebut juga menjadi wangsit umat muslim di dunia semoga bersatu dan menyirami dunia ini dengan kedamaian. Bukan dengan pertumpahan darah bertopeng demokrasi, menyerupai yang dilakukan Amerika Serikat dan kroninya, Israel," sebut Erdogan lagi.
Erdogan juga menyerukan persatuan negara Islam demi membebaskan Palestina dari cengkraman Israel.
"Banyak negara Islam yang sedang terzalimi. Negara adikuasa hanya menginginkan sumberdaya alam dan menumpahkan darah umat muslim. Aksi tenang di Indonesia dan Malaysia jadi tonggak bersejarah untuk kebangkitan Islam di dunia. Dan mematahkan dominasi negara zalim," tegas Erdogan yang diiringi teriakan oke rakyat Turki.
Setelah diumumkan terpilih sebagai presiden Turki dalam pilpres kemarin, Erdogan mengucapkan sebuah kalimat yang mengindikasikan kekuatan aqidahnya. Merespons teriakan "Berdirilah tegak rakyat ini bersama Anda" oleh pendukungnya, Erdogan menyerupai dilansir Kantor Berita Anadolu Agency mengatakan, "Kalian tak usah khawatir, kami belum (pernah) membungkuk di hadapan kekuatan apapun di dunia ini, kami hanya tunduk di hadapan Allah dalam ruku' dan sujud."
Semua mata muslim tertuju kepadanya. Sebab, Erdogan sukses memanfaatkan jabatannya untuk membangun negerinya dan memperlihatkan sumbangsih besar bagi eksistensi peradaban Islam. Dari realitas tersebut, tak heran bila nama Erdogan semakin masyhur di negeri-negeri muslim.
Saat dunia Islam dalam ketertindasannya, negeri-negeri lain justru terus bergerak maju. Uni Eropa secara tidak pribadi menasbihkan dirinya sebagai penaung bagi umat Kristiani. Rusia dan China bagi komunis. India bagi kaum Hindu. Amerika melindungi Yahudi dan juga Kristiani. Sementara, Islam dan kaum muslimin relatif tidak ada lagi yang menaungi peradabannya.
Kita menyaksikan bagaimana tanah Palestina sejengkal demi sejengkal dicaplok Israel sehingga ketika ini hanya menyisakan jalur Gaza dan Tepi Barat yang sempit. Dan, parahnya pencaplokan itu hingga ketika ini terus berlangsung. Umat Islam di sana terus menerus dihina. Apalagi, umumnya pemimpin dunia Islam hanya sanggup diam membisu. Mereka tidak berani bersuara.
Dalam kondisi menyerupai ini, sangat logis bila dunia Islam menaruh harap pada Turki di bawah kepemimpinan Erdogan. Bukan saja alasannya yakni alasan sejarah, namun juga faktor track record kepemimpinan Erdogan. Turki memang belum menjadi negara besar lengan berkuasa selevel dengan Amerika, China, dan Rusia. Tapi, Erdoogan sadar keunggulan peradaban Islam dan sejarah agung bangsanya. Maka suatu hari ia mengatakan, "Peradaban besar yang pernah runtuh harus dibangun kembali di atas puing-puing keruntuhannya."
Erdogan juga sadar orang-orang yang terzalimi di seluruh dunia berada di belakangnya. Rakyat senantiasa mendukungnya dalam kondisi apapun. Bahkan rakyatnya rela mengorbankan nyawa ketika menggagalkan perebutan kekuasaan militer yang disponsori Fethullah Gulen Organization (FETO).
Maka, berbekal kekuatan keyakinan dan Islamnya, Erdogan terus maju menjadi pemimpin muslim yang paling keras bersuara membela negeri-negeri Islam. Berbekal keberhasilan pembangunan di negerinya, Turki juga terus begerak membantu negeri-negeri muslim di aneka macam penggalan dunia, dari Afrika hingga ke Asia lewat aneka macam NGO-nya menyerupai IHH, TIKA dan sebagainya.
Di dalam negeri, Turki juga merawat lebih dari tiga juta pengungsi Suriah yang lari dari perang. Bahkan, ketika sejumlah negara Timur Tengah menyerupai Arab Saudi dan Uni Emirat Arab akan "menyerbu" Qatar sesuai skenario Israel, Turki dengan sigap mengirim pasukannya untuk mengantisipasi kemungkinan jelek ini. Erdogan juga terus mengajak dunia Islam bersatu. Ia juga menyuarakan reformasi PBB.
Suatu ketika ia mengatakan, dunia yang luas ini tidak sanggup diatur hanya oleh lima negera pemegang hak veto di PBB, yaitu Amerika, Rusia, China, Prancis, dan Inggris. Erdogan melihat tidak adanya negara muslim dalam daftar negara pemegang hak veto telah mengakibatkan dunia yang sangat diktatorial kepada umat Islam. Hal semacam ini tampak tidak pernah disuarakan pemimpin dunia Islam lainnya.

No comments:
Post a Comment