Novel Baswedan Bongkar Kejanggalan Kasusnya, Ada Yang Kepanasan... - Salallah

Media Inspiration

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Wednesday, January 2, 2019

Novel Baswedan Bongkar Kejanggalan Kasusnya, Ada Yang Kepanasan...


Hingga kini polisi belum berhasil mengungkap pelaku penyerangan terhadap Novel Baswedan. Penyidik senior KPK itu mempertanyakan kinerja kepolisian.

Kepada wartawan Jawa Pos Agus Dwi Prasetyo dan Imam Husein, Novel yang kini dirawat di Singapore General Hospital membeberkan sejumlah kejanggalan penanganan kasus yang dilakukan polisi. Berikut petikannya.

Sampai kini polisi belum berhasil mengungkap pelaku kasus penyerangan terhadap Anda. Seperti apa sebetulnya yang terjadi?

Coba kini cara berpikir kita dibalik. Kewajiban saya ialah melaksanakan kiprah sebagai aparatur negara. Itu sudah saya lakukan dan ke depan saya akan tetap lakukan.

Saya tetap fokus melaksanakan itu dengan sekuat dan sekeras mungkin saya bisa. Kejadian ini tidak menciptakan saya gentar. Tidak menciptakan saya takut.

Lalu apa korelasinya dengan cara berpikir terbalik itu?

Soal ada permainan (di balik kasus penyiraman, Red) dan ada hal yang tidak diungkap (polisi), itu masalahnya bukan di saya. Itu masalahnya harus dipandang dari sisi yang lebih besar.

Ini negara. Negara punya aparatur, di antaranya saya. Dan saya diserang. Sekarang yang seharusnya murka siapa? Negara. Presiden mewakili negara sudah murka dan perintahkan ungkap kasus ini. Tapi tidak diungkap.

Maksud Anda, kepolisian tidak mengindahkan perintah presiden?

Secara manusiawi semestinya (penyerangan) ini dihentikan dibiarkan. Karena jikalau dibiarkan, efeknya ialah (tindakan teror terhadap aparatur negara) akan terulang. Bagi saya, saat presiden memerintahkan untuk diungkap, tapi ternyata tidak diungkap, ialah pembangkangan yang harus dilihat sebagai problem serius.

Kok beraninya presiden menyuruh mengungkap, tapi tidak dilaksanakan. Perspektif kita mestinya dibelokkan ke sana (pembangkangan).

Lalu bagaimana jikalau pembangkangan tetap dilakukan?

Kalau saya ya terserah. Apakah ingin (pembangkangan) ini menjadi sejarah bahwa ada presiden menawarkan perintah kepada aparatur, tapi tidak dilaksanakan? Ada aparatur yang bekerja benar, terus diserang (teror), tapi kini dibiarkan.

Bahkan, ditutup-tutupi pelakunya. Apakah ingin ada sejarah ibarat itu? Sekarang zaman keterbukaan, tidak sanggup lagi ditutup-tutupi.

Anda kecewa dengan pengungkapan kasus penyerangan ini?

Kalau dibilang saya kecewa, secara manusiawi mestinya kecewa. Tapi, saya berpikirnya positif. Saya hanya mengambil sisi saya, di mana saya akan tetap melaksanakan apa yang menjadi kewajiban saya. Ketika orang punya kewajiban, tapi tidak melaksanakannya, saya hanya kasihan dan prihatin.

Kok sanggup ya ada aparatur punya kewajiban, tapi tidak melaksanakan. Saya tidak mau ibarat ia (polisi). Saya berdoa semoga saya tidak menjadi orang ibarat ia (polisi).

Anda lebih senior daripada tim penyidik kepolisian yang tengah mengungkap kasus Anda. Apakah memang sedemikian sulit mencari pelaku penyerangan Anda?

Ini kasus mudah, sangat mudah. Kalau dibilang sulit, saya tidak paham sulitnya di mana. Karena hal-hal ini sudah dijelaskan semua dan bukti-bukti. Langkah-langkah yang dilakukan tim Polisi Republik Indonesia untuk mengungkap kasus ini saya lihat sudah cukup bagus. Tapi, saya nggak tahu kenapa kok berhenti prosesnya.

Janji Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang akan mengusut Anda di Singapura bagaimana kejelasannya?

Tidak ada kejelasan. Sampai kini belum ada. Cuma, yang mau saya tegaskan dalam kesempatan ini, semenjak pertama kali kejadian, saya sudah menawarkan keterangan. Hari pertama, polsek datang, dari polres datang, dari polda datang, dari Bareskrim dan densus pun ada.

Dan saya selalu menawarkan keterangan. Langsung saya berikan, tidak pakai nanti. Jadi, jikalau saya dibilang tidak menawarkan keterangan, saya kira humas (Polda Metro Jaya dan Mabes Polri) tidak tahu. Karena saya menawarkan keterangan bukan ke humas.

Humas Polisi Republik Indonesia menyatakan, keterangan Anda mestinya masuk dalam informasi program investigasi (BAP). Bagaimana terkait itu?

Kalau terkait dengan diperiksa, saya kira menawarkan keterangan tidak selalu dalam BAP. Penyidik itu mengetahui adanya interview, ada interogasi, dan lain-lain. Jadi, jikalau dibilang tidak menawarkan keterangan, ia (Humas Polri) lupa barangkali dan tidak paham teknis.

Apa lagi kejanggalan penanganan kasus Anda selama ini?

Ada lagi penyampaian yang saya sanggup itu informasinya bahwa rencana penyidik Polisi Republik Indonesia ingin menunjukkan kepada saya denah wajah yang mereka buat. Menurut saya, ini kekonyolan yang perlu dipublikasikan.

Karena semenjak awal insiden saya bilang tidak melihat eksklusif pelakunya. Ini berkali-kali saya sampaikan secara terang dan lugas. Jadi, jikalau dibilang akan ditunjukkan denah wajah pelaku kepada saya, berarti ia tidak paham dengan penyampaian (keterangan) saya. Saya nggak lihat pelakunya, kenapa ditunjukkan kepada saya?

Apakah itu menciptakan Anda semakin yakin memang benar ada pemain drama intelektual yang pernah Anda sebut bahwa seorang jenderal polisi ada di balik penyerangan ini?

Jadi begini sebenarnya, pandangan publik sudah jelas. Jadi, jikalau ditanya ke saya lagi, saya kira tidak pas lagi lah. Karena apa, semua orang sudah tahu bahwa itu (penanganan kasus penyerangan) sudah membingungkan dan meragukan. Ini sudah menjadi hal yang masalah. (bersambung/c9/oki)

Sumber https://www.asiasatu.online

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages